Wednesday, July 27, 2016

Gagal Ke Jogja

Rencana sore tadi mau ngegas ke Jogja, ternyata tensi Ibu masih menunjukkan kenaikan meski tanpa alat atau pengukur tensi. Tahunya dari sejak pagi hingga siang tiduran terus dan makan kurang begitu bergairah atau nafsu makan berkurang. Akan tetapi, apa latah...? Ternyata dosis pil dan obat buat 1 bulan oleh Ibu diminum hingga 2 minggu saja sudah habis.

Saya mulai menanyakan, berapa pil yang diminum tiap harinya sejak 3 hari lalu saya ke Jogja. Jawabannya cukup menegangkan dan terasa aneh, resep dokter yang isinya sampul 1 hari 1 tablet, oleh Ibu diminum 3 tablet sekaligus. Pantesan saya belikan juice melon yang biasanya langsung bereaksi turun atau membuat segar lagi, ternyata tidak berpengaruh. Ohhh ini rupanya penyebabnya, meminum obat berlebihan. Padahal sudah dipesan sebelumnya agar 1 tablet masing masing resep. Yah, itulah terpaksa saya harus menyalahkan diri sendiri yang instruksinya belum beliau indahkan. Akhirnya, nilah kenyataannya.

Tuesday, July 26, 2016

Kamis Dan Numpak Bis

Seperti biasa terjadi obrolan dengan sedikit atau bahklan sering salah paham antara saya dengan ibu. Diliputi rasa sedikit malas untuk menuliskan sesuatu, sehingga saya cukup dengan menggunakan bahasa isyarat yang kenyataannya malah menimbulkan pengertian yang sama sekali tidak berhubungan. Seperti yang terjadi minggu lalu, Ibu menanyakan hari apa ini...?, saya jawab singkat dengan isyarat : Kamis atau dengan suara pelan namun berharap dapat ditangkap segera. Jawaban Ibu malah sambil ucap dengan seru : Opo, Numpak Bis...?. Hehehehe, para pembaca yang baik hati, bagaimana rasanya mendengar langsung jawaban ini. Tentu mengingatkan kita dan siapa saja yang pernah atau sekarang memiliki anak anak kecil atau Balita ( Bawah Lima Tahun ).

Saya pun teringat akan sebuah ayat dalam Surah Yasin, yang biasa dipakai kalangan atau sebagian saudara muslim kita buat acara tahlilan dan yasinan. Ayat itu terletak bagian akhir atau ruku' akhir surah Yasin yang terjemahannya sebagai berikut, yakni QS Yasin ayat 68. 

68. Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?

Demikianlah Gusti Alloh SWT mengingatkan manusia, jikalau mempunyai orang tua baik lengkap atau tinggal satu saja untuk selalu mengambil hikmah dari ayat ini dan memaklumi keadaan mereka.

Sunday, July 24, 2016

Maafkan Putramu Ibu

Sehari usai periksa ke dokter dan dinyatakan tensi atau tekanan darah nya menurut artikata.com yang terukur 250, saya mengharuskan diri untuk menjaga makanan yang bisa menyebabkan kenaikan tensi minimal menghindari yang asin dan daging. Dengan nilai 250 memang tergolong tinggi, sebab saudara ipar saya dengan nilai tensi 210 sudah tidak bicara bicara dan harus diopname (menginap) di RS PKU Muhamadiyah Surakarta dan memakan waktu lebih kurang 1 minggu (pekan) dan alhamdulillah, 2 hari lalu saat saya bezuk pada angka 175 itupun bicara masih kesulitan dan berjalan dengan cukup pelan pelan. Sedang Ibu, alhamdulillah masih seperti biasa hanya terlihat sedikit agak pucat. Akan tetapi obat tetes mata sepertinya agak cocok, dengan 3 kali test sudah normal kembali.

Karena demikian situasinya, saya mencoba untuk memasak sendiri makanan dan lauk pauk serta menghindari membeli di warung. Saya memilih sayur bening seperti biasa kesukaan beliau. Ada kejadian dimana saya selaku putra telah melakukan kesalahan besar, namun memang seakan akan tak bisa terhindarkan. Apa pasal...? Di saat saya mengiris iris sayuran baik dari : kacang panjang, jipan, daun so, cabe merah, tahu, tempe dan lain lainnya yang diperlukan, beliau mengacak acak dan seperti akan membanting. Saya maklum tensinya sedang tinggi, dan maunya cukup membeli saja agar tidak makan waktu. Akhirnya, saya tak sadar dicampur rasa sedikit agak marah dan meja di tengah dekat kursi tidurnya saya tendang dengan speed rendah. Sebab, saya mau membantah cukup tidak ada nyali dan saya merasakan tensi saya juga agak naik karena terasa nyut nyut di kening.

Setelah Sedikit Sehat Bisa Simak Pengajian You Tube

Setelah situasi bisa dikendalikan dan ibu saya mohon untuk tidur saja, sebab nanti sekitar 1 jam lagi akan siap saji semua makanan baik nasi kunak dan sayuran bening. Dengan demikian saya sedikit lega lalu dilanjutkan masak dengan porsi cukup banyak, yakni 1 panci full sayur dengan kuah agak banyak, sebab saya juga merasakan tensi agak naik juga. Melampaui 1 jam sudah akhirnya semua siap dan saya menikmati dengan makan cukup banyak usai sholat dhuhur. Namun masih teringat sedikit kemarahan saya, habis sholat dhuhur langsung saya minta maaf karena sedikit agak lancang yakni menggubrak meja serta bicara agak tinggi meski sebenarnya beliau tidak bisa mendengar. Maafkan anakmu Ibu, dan sekali lagi semoga kejadian yang baru saya buat supaya dilupakan, Amin.




Tuesday, July 19, 2016

Periksa Tensi

Tadi pagi Ibu agak mengeluh soal rasa kurang nyaman badannya serta mata sebelah kiri. Kemarin sudah menunggu kedatangan putri seorang mubaligh zaman tahun 90 an, Dokter Nurjannah Ngruki. Beliau putri pendiri yasayan Al Mukmin, yang pondoknya pernah bikin heboh dunia internasional. Namun sekarang sudah mengalir seperti umumnya ponpes di nusantara. Akhirnya, saya usul ke Ibu ke Dokter sepuh yang lama yakni Dr Hanardi yang usianya kurang lebih sekitar 70 tahunan.

Tak disangka, ternyata ukuran tensi Ibu kali ini cukup tinggi yakni 250. Mungkin capek saat Lebaran dan makan makan nuansa lebaran tahun ii yang berlebihan sehingga kurang kontrol. Saya minta maaf Ibu, yang belum bisa jalankan kontrol terhadap makanan yang dinikmati pasca Lebaran ini. Masih ada satu lagi, yakni 1 resep yang harus saya beli di apotik, kata Dokter Hanardi itu buat jantung. Wanita seperti Ibu saya dengan usia 84  tahun an memang rentan terhadap perubahan kondisi kesehatannya. Terlebih beberapa parcel yang masuk sebenarnya cocok buat snack atau makanan ringan buat cucu cucunya. Apa dikata, meski insan dengan usia mulai udzur pola makanan yang ada sekarang berubah sangat cepat. Untuk itu bagi yang masih memiliki orang tua apalagi Ibu untuk menyempatkan waktu buat kontrol saat beliau atau ibu ibu masuk usia rentan dengan penyakit serta perubahan mendadak. Sekali lagi maaf Ibu, sikap dari anaknya yang selalu kurang memuaskan dan bila orang tua kita komplain, merekalah yang tetap benar.

Friday, July 15, 2016

Kegelisahan Mertuwa

Ibu saya selaku mertuwa dari anak anaknya sejak 3 hari lalu agak gelisah mengingat menantunya ( istri kakak saya ) masuk dan menginap di RS PKU Muhammadiyah Solo dengan " gejala stroke ". Kakak saya, suami wanita yang bernama Siti Khusniyah sebenarnya saat syawalan hari Jumat pekan lalu cukup sehat, namun nampaknya advise suaminya ( kakak saya ) agar sering chek up baik tensi atau kadar gula serta detak jantung. Rupanya ini kurang mendpat atensi, hingga 3 hari lalu kakak ipar saya ( siti khusniyah ) yang berputra 3 ini harus dirawat di Rumah Sakit PKU sebagai rujukan dari PKU Kartasura.

Tepat seminggu dari acara syawalan keluarga besar alm, kakek saya Jumat 8 Juli 2016 lalu di Solo, hari ini saya menyempatkan bezuk di PKU Muhamadiyah Solo. Beiau menempati ruang Mulyazam Lantai 3 dan rencana Jumat sore mau dipindahkan ruangan yang agak dekat udara bebas ( jendela ) setelah sebelumnya di ruang full AC yang dirasa terlalu dingin. Pasien ( kakak ipar saya ) usianya sekitar 50 an tahun. Anak anaknya mengingat jadwal mudik yang diijinkan kantornyam berakhir kemarin. Terpaksa 2 anaknya harus balik ke lokasi kerja lagi. Yang menunggu tinggal anak terakhir yang masih kuliah di UNS bernama Ari. Yang harus balik lagi ke lokasi kerja : 

Inilah sekilas kejadian di hari ini Jumat 15 Juli 2016 dimana Ibu selalu mendorong adik adiknya agar segera menjenguk pasien tersebut. Terakhir saya menyaksikan tadi pagi, kakak ipar saya memang mengenal siapa yang berkunjug, namun untuk bicara masih teramat sulit. Inilah pertanda bahwa kakak saua jika kurang bagus tentu akan menambah sakitnya mengingat saat jam makan, masih terasa sulit untuk menikmatinya. Sementara dengan ifus dulu yang penting bisa siuman dan optimis lagi. Sebelumnya kakak saya ini sebelum berangkat Haji 3 tahun lalu cukup fit dan bagus sikonnya hingga kepulangannya dari Timur Tengah ( melaksanakan ibadah yang menuai kritikan dari penyelenggarannya ) hingga sekarang.








Tuesday, July 12, 2016

Wanita Suka Yang Keras

Tulisan ini sekedar saduran foto kawan dari Jawa Timur ( Mas Caxis CB Bangil ) yang kebetulan upload foto di media sosialnya kebetulan masih suasana lebaran dan kaitannya dengan wanita baik yang sudah ibu ibu dan lajang yang mengitari motor tuanya. Motor yang serba komponen besi ( sifatnya keras ), akhirnya kutulis tulisan dengan judul dengan tema wanita suka yang keras.




Jujur saja, memang benar khan wanita pasti suka yang keras keras....?? hehehehe, duung semangat dan semangat jelang pasca lebaran meski sedikit agak macet. 

Monday, July 11, 2016

Istri Yang Dulu Dikira Istri Baru

Anak kakak saya lebaran tahun ini ( 1437 H atau 2016 M ) menyempatkan pulang kampung halaman yakni Kartasura jawa Tengah ( mudik lebaran ) dari Qatar setelah kerja disana sekitar 5 tahun lalu. Namanya Fanny Mudarris, istrinya berasal dari Banten dan saat pengantin baru kerjanya sebagai perawat. Anak kakak saya di peusahaan cukup bonafid, Schlumberger yang pusatnya di Paris Perancis dan awal perkenalannya saat Fanny bekerja di Cilegon. Sekarang dikaruniai 2 anak. Prestasinya memang nampak saat SMA di Solo, dan sering masuk 5 besar. Tentang Shlumberger bisa disimak : disini

Diterimanya di perusahaan ini test nya cukup ketat juga, khabarnya dari 1000 an peserta hanya 10 yang diterima. Persaingannya 1 : 100. Adiknya, Fajar yang saat SMA lumayan nakal ( mbeling : Jawa ) juga cukup mapan kerjanya, di perusahaan minyak di Pekanbaru ( Chevron ) dan istrinya dari kalangan cukup berstatus yakni putri Rektor sebuah PTS di Solo, sedang kakak saya ( ayah kedua anak ini ) hanya pegawai lapangan biasa di PBS ( Proyek Bengawan Solo ), yahh itulah namanya jodoh, hanya Tuhan Yang Maha Memberi Rizki termasuk perjodohan.

Hari ketiga Lebaran kemarin atau Jumat 8 Juli 2016, Dik Fanny (saya panggil dengan dik) karena saya sebagai pamannya (pak Lik : Jawa) sowan dan bersungkem pada Ibu saya di Solo. Perjalananan dari bandara Sutta jakarta langsung ke rumah Ibu. Tiga tahun lalu memang Fanny sama istri pernah mampir ke Ibu saya, saat itu istrinya masih berbadan sedang. Dua tahun kemudian (tahun ini) mampir lagi ke orang tuanya dan neneknya (ibu saya), istri dalam keadaan agak gemuk dan nampak seperti tambah tinggi. Terjadilah dialog yang cukup heboh, Ibu bertanya ke kakak saya (dari Bandung ) : istri Fanny opo wes ganti (istri Fanny apa sudah ganti kok besar badannya ). Kakak saya bilang : istrinya tetap ( bojone tetep Bu.....!! ). Kakak saya lupa " nulis " hanya pakai suara dan isyarat, akhirnya Ibu saya berkesimpulan : Oooo, bojone wes ganti thoo......( ooo, istrinya sudah ganti thoo ). Semua tamu yang ada tertawa yang malah Ibu juga tertawa.